Jejak Panjang PES hingga eFootball: Rivalitas Game Bola di Indonesia
Buat anak-anak Indonesia era 2000-an, akhir pekan itu sederhana. Kalau tidak ke warnet, ya ke rental PlayStation. Dan kalau masuk ke rental PS, hampir bisa dipastikan layar TV penuh warna hijau, tanda satu hal: game sepak bola sedang berkuasa.
Sepak bola bukan cuma olahraga favorit di dunia nyata, tapi juga jadi raja di dunia game. Dari sinilah lahir rivalitas panjang yang membagi pemain Indonesia ke dalam dua kubu besar: PES (Winning Eleven) dan FIFA.
Winning Eleven bukan sekadar game di Indonesia, tapi sudah menjadi budaya. Walaupun secara global dikenal sebagai Pro Evolution Soccer, nama Winning Eleven justru lebih melekat di Asia, terutama Indonesia. Game ini pertama kali dirilis pada tahun 1995 dan awalnya eksklusif untuk Jepang.
Di Indonesia, Winning Eleven meledak di era PlayStation 1 dan PS2. Salah satu alasannya adalah maraknya game bajakan. Versi modifikasi Winning Eleven sangat mudah ditemukan, murah, dan bahkan disesuaikan dengan selera lokal. Ada yang memasukkan timnas Indonesia, mengganti musik menu dengan lagu dangdut, hingga menggunakan bahasa campuran Jepang dan Inggris. Hal-hal ini membuat Winning Eleven terasa sangat dekat dengan pemain Indonesia.
Suasana rental PS saat itu sangat kompetitif. Muncul aturan-aturan tidak tertulis seperti tidak boleh memakai Roberto Carlos, tidak boleh one-touch goal, dan tidak boleh spam tombol tembak. Harga diri sering kali lebih dipertaruhkan daripada sekadar menang atau kalah.
Memasuki era PlayStation 3, nama Winning Eleven mulai ditinggalkan dan digantikan oleh Pro Evolution Soccer. Konami merilis PES dengan grafis dan gameplay yang lebih modern, dan pemain Indonesia pun mulai beradaptasi. Masa keemasan PES terjadi sekitar tahun 2011 dan 2013, saat cover game diisi oleh Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo.
Di periode ini, komunitas mulai tumbuh dengan serius. Turnamen kecil bermunculan di rental PS dan komunitas lokal. PES bukan lagi sekadar game hiburan, tapi sudah menjadi ajang adu skill dan gengsi.
Sementara itu, FIFA berkembang dengan jalur yang berbeda. Sejak awal, FIFA dikenal sebagai game sepak bola dengan lisensi resmi paling lengkap. Nama klub, logo, jersey, hingga stadion hampir semuanya asli. FIFA pertama kali dirilis pada tahun 1993 dan langsung populer di Eropa dan Amerika.
Namun di Indonesia, FIFA sempat kurang diminati, terutama di era PS2. Gameplay-nya dianggap lebih sulit dan tidak sefleksibel PES. FIFA baru benar-benar mendapat tempat di Indonesia saat era PS3 dan PS4, ketika gameplay semakin realistis dan fitur strategi makin kompleks. Kehadiran FIFA Street juga sempat menarik minat remaja karena gaya bermainnya yang bebas dan penuh gaya.
Perbedaan paling mencolok antara PES dan FIFA sebenarnya terletak pada lisensi. FIFA memiliki hak eksklusif banyak liga dan klub, sementara PES harus mengubah nama tim, logo, dan jersey karena keterbatasan lisensi. Dari sinilah muncul nama-nama ikonik seperti London FC, Man Blue, dan Merseyside Red. Meski begitu, beberapa klub besar seperti Barcelona tetap menggunakan nama asli berkat kerja sama resmi dengan Konami.
Kini, PES telah berevolusi menjadi eFootball. Dengan konsep free-to-play, dukungan online yang kuat, dan grafis yang semakin realistis, eFootball masih ramai dimainkan hingga sekarang. Turnamen esports untuk eFootball juga terus bermunculan, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Indonesia bahkan memiliki pemain profesional eFootball kelas dunia seperti Rizky Faidan, yang sudah bermain sejak usia sangat muda dan membuktikan bahwa PES dan eFootball memiliki ikatan kuat dengan gamer Indonesia.
Pada akhirnya, tidak ada game sepak bola yang benar-benar paling sempurna. FIFA unggul dalam lisensi dan realisme, sementara PES dan eFootball unggul dalam mekanik gameplay serta kedekatan emosional dengan pemain Indonesia. Dari rental PS hingga panggung esports, eFootball adalah bukti bahwa PES bukan sekadar game, melainkan bagian dari sejarah gaming di Indonesia.
Kalau kamu sendiri, lebih pilih eFootball atau FIFA?
